
Pilu! Dengan keterbatasannya mas sriyono tetap berjuang, Sulit untuk bicara dan tidak bisa berjalan normal sejak lahir. Tapi semangatnya begitu tinggi untuk kesembuhan ibu yang sakit diabetes.

Tubuhnya gemetar, tangannya menopang berat badan, kakinya tak lagi mampu berdiri sejak polio merenggut kekuatannya saat ia masih bayi. Untuk berjalan saja ia tak sanggup. Kadang ia jatuh, kadang terdiam karena kelelahan, lalu kembali merangkak perlahan… karena ia tahu, jika ia berhenti, hidup ibunya ikut terhenti.
Mas Sriyono adalah penyandang disabilitas. Berbicara pun sulit baginya. Ucapannya terbata, tubuhnya gemetar, tapi tanggung jawab hidup memaksanya tetap kuat.
Di rumah kecil yang sepi, ibunya terbaring lemah. Stroke telah membuatnya tak bisa bekerja, bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun kesulitan. Mereka hanya tinggal berdua. Tak ada penghasilan lain. Tak ada sandaran hidup. Mas Sriyono menjadi satu-satunya tulang punggung, meski dirinya sendiri penuh keterbatasan.
Pukul 06.00 pagi, Mas Sriyono merangkak keluar rumah untuk mencari kayu bakar. Bukan berjalan, tapi benar-benar menyeret tubuhnya di tanah menuju tempat yang jaraknya cukup jauh. Jalanan berbatu, panas, dan debu harus ia lalui dengan tubuh yang terus gemetar dan sakit yang menusuk.

Kayu bakar itu ia ikat, lalu dijual seharga Rp5.000 per ikat. Itulah harga dari perjuangannya. Dari uang itulah ia membeli beras, membayar kebutuhan sederhana, dan mencoba memenuhi pengobatan ibunya yang sakit stroke.
Sering kali ia berangkat tanpa membawa air minum. Saat haus tak tertahankan dan tenaga hampir habis, Mas Sriyono hanya bisa minum dari sumber air terdekat, mencuci muka sambil menahan gemetar. Ia pulang sekitar pukul 10.00 pagi, bukan karena lelah semata, tapi karena ia tak berani meninggalkan ibunya sendirian terlalu lama.

Yang membuat hati terasa perih…
Dalam tubuh yang rapuh dan hidup yang penuh ujian, Mas Sriyono tetap berusaha menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim. Di sela rasa sakit, ia masih menyempatkan diri bersujud dan berdoa, memohon kekuatan untuk bertahan satu hari lagi.

Mas Sriyono tidak pernah meminta hidup seperti ini. Ia hanya ingin ibunya bisa makan, bisa berobat, dan tidak merasa sendirian.
#OrangBaik, Hari ini kita punya kesempatan untuk meringankan beban yang selama ini ia pikul sendirian. Mari ulurkan tangan, jadilah harapan bagi Mas Sriyono dan ibunya.