Peluh mengucur dari balik kerudung merah itu.
Lelah jelas terlihat dari raut mukanya.
Dengan langkah perlahan dan tertatih, Mbah Painem (83) mendorong gerobak jamunya.
Sejak pukul 6 pagi dan kini menjelang jam 10 siang, belum ada satu pun pembeli yang mampir membeli.

Terlihat deretan botol berisi jamu milik Simbah masih penuh.
Mbah Painem berjualan jamu sejak dirinya masih berusia 20 tahun.
Tapi, hingga saat ini langkah pelan Simbah seakan tak ingin terhenti.
Sambil berteriak kepada siapa saja yang melintas di depannya, Mbah menawarkan jamu yang beliau bawa.

“Dibeli Nak jamunya.. Jamu asli, buatan Simbah, bisa menyehatkan..” teriak Simbah.
Biasanya Mbah Painem akan menjual jamunya seharga Rp 3.000/bungkus plastik.
Dalam sehari, Mbah akan membawa pulang uang senilai Rp 30.000 saja.
Dari Rp 30.000 itu Mbah Painem harus menyisihkan untuk menabung, membeli sembako, dan membayar kost.
Benar, Mbah Painem tinggal sendirian di sepetak rumah kost yang ada di tengah Kota Madiun.

Sudah 10 tahun ini sejak sang Suami tiada, Mbah Painem berusaha untuk menguatkan diri agar tidak bergantung dengan orang lain.
“Kalau ditanya kesepian apa engga ya jelas kesepian, Nak. Kadang kepikiran pengen menyusul Suami (meninggal dunia), tapi kok ya dosa. Allah jelas udah ngasih saya kesempatan buat hidup, ngasih kesehatan, makanya saya ngga boleh menyerah.” cerita Mbah Painem sambil menyantap makanan.

Terlihat dinding rumah Mbah Painem sudah banyak yang keropos.
Biasanya akan banyak debu dan remahan semen yang turun dan tak sengaja terhirup oleh Simbah.
Kasihan sekali Mbah Painem.
#OrangBaik!, ayo kita patungan buat borong jamu Simbah dengan cara klik “DONASI SEKARANG” pada halaman galang dana ini. Terima kasih #OrangBaik!